FBI BONGKAR IDENTITAS PENJAGAL JURNALIS AS

Red. by Berliani (Internet)   

Ini Cara FBI Bongkar Identitas Penjagal Jurnalis AS

Biro Federal Investigasi (FBI) beberapa hari lalu mengumumkan mereka telah berhasil mengantongi identitas pemenggal James Foley, jurnalis Amerika Serikat yang dieksekusi kelompok teroris Islamic State of Iraq and al-Sham (ISIS).

Keberhasilan badan penyelidik pemerintah AS itu mengungkap identitas sang jagal disebutkan melalui analisa aksen Inggris sang pemenggal dalam video. Berbekal karakteristik akses tersebut, FBI akhirnya bisa menentukan sang jagal. Namun demikian, FBI sampai kini belum merilis siapa nama sang pemenanggal.



Melansir Popular Science, Rabu 1 Oktober 2014, kunci keberhasilan pengungkapan identitas penjagal menurut Dubes Inggirs untuk AS, Peter Westmacott adalah berkat teknologi identifikasi suara.

Meski pemerintah negeri Paman Sam sampai kini belum membeberkan tepatnya bagaimana mereka melakukan identifikasi itu, namun para ahli teknologi suara mengungkapkan bagaimana teknologi identifikasi suara bekerja.

Analis suara Universitas Ohio State, AS, DeLiang Wang menjelaskan teknologi pengenalan suara yang digunakan berbeda dengan teknologi pada Siri besutan Apple maupun Google Now milik Android.

Memang kedua fitur ponsel itu menjalankan teknologi pengenalan suara pada perangkat mobile, namun hanya untuk memahami apa yang dikatakan seseorang.

Sedangkan program identifikasi pembicara dalam video melihat pola dalam bentuk gelombang suara seseorang.

Pola tersebut akan tetap konstan meski seseorang berbicara dalam berbagai bahasa. Setelah pola ditemukan, komputer membandingkan sampel audio dengan rekaman suara lain. Langkah ini untuk mencocokkan sampel dengan pembicara yang jadi target.

Makain banyak suara yang diuji dalam jaringan netral berarti makin kuat untuk pengenalan suara pembicara.

"Jadi teknologi ini sejenis pencocokan sidik jari," ujar Wang.

Secara lebih detail, disampaikan, komputer pertama kali membandingkan sampel dengan setiap suara yang berpotensi cocok dengan target. Kemudian, komputer mengecek sampel lagi untuk melihat hasil apakah berasal dari orang yang sama.

Data Suara

Wang menambahkan agar program software mampu mendeteksi suara pembicara dalam video, setidaknya harus memiliki rekaman sampel target pembicara. Ini untuk perbandingan. Tanpa itu, penyelidikan suara akan susah.

"Jika mereka ingin melacak target yang diketahui seorang teroris, mereka harus memiliki database yang dikenali sebagai suara target (teroris)," jelas Wang.

Pertanyaanya, apakah penegak hukum AS sebelumnya sudah memilki data suara target teroris?. FBI sangat besar punya peluang memiliki database. Sebab mitra FBI, Badan Keamanan Nasional AS (NSA) diketahui telah menjalankan program pengawasan dan pencatatan rekaman riwayat panggilan telepon.

Program pengawasan ini dilakukan melalui backdoor keamanan jaringan telekomunikasi. Jadi bukan tak mungkin FBI memanfaatkan data yang dimiliki NSA.

Wang menambahkan dalam satu dekade terakhir, komputer telah mengungguli kemampuan telingan manusia, untuk mengenali suara. Namun demikian, teknologi saat ini masih menemui kendala identifikasi suara, jika rekaman video muncul suara berisik maupun perangkat identifikasi kurang canggih.

Tantangan lain, nada suara yang dimunculkan target juga bisa menjadi problem alat pendeteksi suara, bahkan seseorang pun, kata dia bisa mengubah suara mereka untuk mengelabui mesin pendeteksi.



Share :
ITALIC Solution
IT - Consultant

© ITALIC Solution - Development Team
Jakarta - Indonesia