JARINGAN KOMPUTER SETNEG DAN POLRI

Red. by Berliani (Internet)   

Jaringan Komputer Setneg dan Polri Rentan Terserang Malware

     Jaringan komputer Sekretariat Negara dan Kepolisian RI, dinilai paling rentang menjadi sasaran utama penyebaran malware, untuk memata-matai lembaga negara tersebut. Selain itu, jaringan komputer Garuda Indonesia dan Bank Indonesia juga tak luput dari ancaman program perusak itu.

     Anggota Komite Regulasi Telekomunikasi pada Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), Heru Sutadi, mengatakan, serangan malware makin meluas dan mengganas. "Tren ke depan selain mencuri data pribadi, virus ini cenderung digunakan untuk menyadap. Ada juga malware yang diciptakan untuk memata-matai lembaga dan orang tertentu," ujar Heru, kepada Harian Terbit, kemarin.



Heru menilai, malware menyerang semua jaringan tanpa pandang bulu. "Untuk itu perlu kiranya dipasang antimalware/virus dan jangan klik link-link dari email yang tidak jelas, termasuk pop up sebuah situs," imbuhnya.

Pakar teknologi informasi, Rudi Lumanto, menambahkan, tak banyak yang menyadari bahaya malware. Instansi pemerintah dan lembaga negara pun diminta meningkatkan kewaspadaan akan serangan tersebut. Berdasarkan data pada 2013, dalam tiga bulan jumlah komputer di Indonesia yang terinfeksi malware naik tiga hingga empat kali lipat. "Saya lupa tepatnya, kalau enggak salah pengamatan April-Juli 2013. Bulan April jumlahnya 40 ribuan dan Juli sudah 150 ribuan. Tak ayal, jumlah ini pun semakin bertambah," ujarnya.

Dia menjelaskan, malicious software atau disebut malware, secara bahasa artinya perangkat lunak yang jahat. "Malware ini program komputer yang dibuat untuk menggangu fungsi komputer, mencuri data atau mendapatkan akses dan sebagainya," ujar Rudi. Dalam malware, lanjutnya, terdapat virus, trojan, worm, spyware, adware.

Rudi menjelaskan, masing-masing virus yang tergabung dalam malware memiliki fungsi dan karakteristik berbeda. "Misalnya untuk trojan, dia bisa menginfeksi komputer lalu membuka akses dari dalam agar komputer luar bisa ikut masuk. Virus ini bisa menginfeksi komputer, menduplikasi dirinya dan menganggu kerja sistem komputer dan sebagainya," terangnya.

Malware yang canggih, ujarnya, sengaja diciptakan agar tidak bisa terdeteksi software antivirus. "Malware seperti ini sangat berbahaya karena bukan saja bisa mencuri data di dalam komputer tanpa diketahui, tapi bisa juga dikendalikan dari luar untuk menyerang komputer lain dalam internet. Biasa dikenal sebagai botnet. Malware bisa menginfeksi kalau dieksekusi oleh pengguna komputernya, misalnya dengan mengklik file, meng-iya-kan terhadap proses yang mau dijalankan, dan sebagainya," imbuhnya.

Selain itu, malware juga bisa masuk melalui lampiran dalam email, USB file, atau file di website yang di-download. "Setelah menginfeksi sistem, malware mulai beroperasi tergantung fungsi yang dia miliki. Ada yang diam saja sampai ada perintah, ada yang menggandakan file, ada yang menduplikasikan dirinya agar menyebar lagi, ada yang mencari file tertentu dan menghilangkannya sehingga komputer menjadi rusak," tuturnya.

Frans Thamura, Shadow Master and Lead Investor Meruvian, Integrated Hypermedia Java Solution Provider juga mengeluhkan keberadaan malware. "Ganggu proses dan aplikasi jadi lambat, produktivitas pun jadi rendah," ujar Frans.

Ia beranggapan, instansi pemerintah maupun lembaga negara sangat rentan terkena virus jahil itu. Bahkan, server pemerintah pun dinilainya sebagai kolektor virus. "Yang jelas pemerintah sangat rentan. Mereka hanya ngurusin nonton Vimeo saja. Bagaimana bisa jaga diri dari virus malware. Mungkin kolektor virus dan malware terbanyak nasional di sana (instansi dan pemerintah) kali," terangnya.

Sementara itu, Kasubdit Keamanan Informasi Kementerian Komunikasi dan Informatika, Hasyim Gautama, mengatakan, ada tiga faktor yang dapat mencegah penyebaran malware. Di antaranya, people, process, dan technology. "People di sini adalah operator tidak klik website yang berbahaya.Tidak menggunakan flash disk untuk tukar data. Serta gunakan email yang dapat otomatis membersihkan virus," tegasnya.

Sedangkan untuk technology, lanjutnya, diharapkan perangkat komputer dilengkapi antivirus, dan selalu di-update. "Untuk proses, harus ada SOP dan kebijakan untuk mengatur website yang tidak boleh diakses," jelasnya. Namun, Hasyim enggan mengatakan instansi dan lembaga mana saja yang terkena virus tersebut.

Dari data studi forensik Microsoft, sekitar 69 persen komputer personal (PC) merek ternama yang di-install menggunakan software bajakan dan DVD palsu asal Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand dan Vietnam, dinyatakan terinfeksi aplikasi malware (virus). Data itu merupakan studi forensik Microsoft terhadap 282 komputer yang diperiksa.

National Technology Officer Public Sector Microsoft Indonesia, Tony Seno Hartono, mengatakan, temuan tim Microsoft Security Forensics mengungkapkan dalam Windows bajakan tertanam aplikasi malware yang tersebar di banyak PC terkemuka, termasuk Acer, Asus, Dell, HP, Lenovo, dan Samsung.

Berdasarkan studi tersebut, Microsoft menyatakan software palsu ataupun malware bukan berasal (ter-install) dari pabrikan PC tersebut. Pasalnya, komputer yang dijual dengan sistem operasi non-Windows, kemudian diganti oleh individu atau toko-toko dengan menduplikasi ilegal dan distribusi software bajakan.

Menurut studi Microsoft, tingkat infeksi software bajakan paling signifikan terjadi di seluruh Asia Tenggara. Indonesia khususnya, sebanyak 59,09 persen sampel HDD (hard disc drive) terinfeksi malware, sedangkan 100 persen sampel DVD semuanya terinfeksi malware.



Share :
ITALIC Solution
IT - Consultant

© ITALIC Solution - Development Team
Jakarta - Indonesia