SAINS, TI DAN UJUNG TOMBAK KEMANUSIAAN

Red. by Berliani (Internet)   

   Berbagai permasalahan kemanusiaan, misalnya penyakit menular, big data, krisis energi, sudah menjadi momok yang ‘menggerogoti’ planet bumi kita ini.

   Riset mendalam pada bidang sains, atau basic science, sudah jelas, adalah salah satu solusi yang diharapkan dapat memberi terobosan terhadap masalah-masalah tersebut.



   Namun, bagaimanakah manajerial yang baik untuk mendapatkan terobosan tersebut? Bagaimana peran Teknik Informatika (TI) di dalamnya?

Pemetaan Bidang Unggulan

   Jika kita membuka agenda riset nasional (ARN) tahun 2010-2014, yang merupakan keputusan menteri riset dan teknologi, maka memang ada beberapa topik besar yang menjadi pemandu bagi peneliti, baik di instansi pemerintah atau swasta.

   Topik-topik itu adalah ketahanan pangan, energi, teknologi informasi dan komunikasi, teknologi dan manajemen transportasi, teknologi pertahanan dan keamanan, teknologi kesehatan dan obat, material maju, dan riset unggulan sosial kemanusiaan.

   Mengapa riset sosial kemanusiaan menjadi bagian dari ARN? Sebabnya adalah riset ini digunakan untuk mengkaji dampak sosial dari industri pangan, obat, dan energi. Kesemua industri tersebut dilandasi oleh sains atau basic science.

   Kajian ARN menunjukkan, bahwa riset tidaklah ‘an sich’ merupakan ilmu eksak atau sains saja, namun selalu ada aspek kemanusiaan yang harus dijadikan pertimbangan. Di sini menjadi jelas, bahwa pada akhirnya, sains harus digunakan untuk mengabdikan dirinya kepada kemanusiaan.

   Akan lebih jelas, bahwa tidak hanya output-nya saja yang memiliki dampak terhadap kemanusiaan, namun juga, secara internal, kepada peneliti, ia memiliki dampak yang manusia juga.

   TI sangat berperan sentral di sini, sebab data yang akan dikelola akan semakin banyak, sehingga memerlukan kemampuan manajerial yang sangat baik, untuk pengembangan sistim informasi yang paripurna.

Riset dan Manajemen Proyek

   Riset memerlukan manajemen proyek yang sempurna. Delegasi otoritas adalah konsep kunci dalam mendesentralisasi beban kerja kepada setiap anggota grup. Tanpa delegasi otoritas, pekerjaan hanya akan terkonsentrasi pada orang tertentu, dan anggota yang lain tidak melakukan apa-apa.

   Kesejahteraan setiap member, baik mahasiswa (proyek di perguruan tinggi) atau pegawai (proyek swasta atau instansi pemerintah), harus diperhatikan dengan sangat baik. Menumbuhkan sense of belonging di dalam internal grup, haruslah dilakukan secara berkala.

   Penanaman sense of belonging sangatlah penting, sebab proyek tersebut bukanlah milik atasan, pimpro atau bos saja, namun milik semua anggota grup. Hal tersebut dapat dilakukan dengan sesi retreat, dalam rangka memperkuat konsolidasi internal grup riset.

   Dalam sesi retreat, yang lebih banyak konten informal, dapat lebih dikaji permasalahan apa yang dihadapi oleh grup secara lebih komprehensif, baik problem internal ataupun eksternal.

   Jadi, sains sama sekali tidak bisa dikembangkan secara ‘science for science’, namun memerlukan kordinasi manajerial juga, dalam rangka menghasilkan output yang sesuai dengan SOP yang telah ada. Di sini, hubungan antar manusia memainkan peranan penting, sebab kebersamaan yang solid merupakan kunci dalam menyelesaikan proyek riset tersebut.

   Hanya manajemen proyek yang paripurna, yang dapat memberikan kontribusi dalam menyelesaikan berbagai macam masalah kemanusiaan.

   Dalam beberapa kasus di sains informatika atau teknologi informasi, pemberian kredit atau kum justru tidak hanya kepada manusia, namun juga bisa kepada komputer. Hal ini terjadi, ketika Doron Zeilberger, ahli matematika dari USA, membubuhkan nama ‘Shalosh B.Ekhad’, dalam daftar autor, pada publikasi ilmiah milikinya.

   Siapakah Shalosh? Ternyata, dia bukan manusia, namun sebuah komputer. Hal ini menunjukkan, bahwa tidak hanya manusia yang mendapat kredit dalam pengembangan sains, namun komputer juga harus mendapat recognition. Dalam konteks manajemen proyek, hal ini adalah pengakuan bahwa ‘mesin’ sekalipun harus mendapat recognition yang pantas.

Manusia dan Sains dalam naungan IT

   Sains untuk manusia, atau manusia untuk sains? Di negara maju, sains tidak harus mengabdi pada kemanusiaan, sebab negara sudah memberikan bantuan kepada warga yang membutuhkan nafkah dan pekerjaan.

   Oleh sebab itu, ilmuwan dapat saja fokus pada episteme ‘science for science’. Hanya saja, kita yang merupakan negara berkembang, masih memerlukan kontribusi pemikiran akan berbagai masalah multi-dimensi yang dihadapi bangsa kita.

   Jika kita meminta negara menyelesaikan permasalahan bangsa, tanpa kita melakukan apa-apa, adalah suatu pemikiran atau tindakan yang sangat egois.

   Indonesia adalah negara yang berproses menjadi welfare state, dan masih jauh untuk menjadi welfare state itu sendiri. Akan sangat baik, jika setiap warga negara, siapapun kita, dan apapun profesi kita, paling tidak ikut urun rembuk memikirkan permasalahan bangsa yang riil, baik itu masalah kesehatan, pangan, lingkungan, keamanan, transportasi, dan lainnya.

   Di sini, pemetaan masalah kemanusian, maupun pengembangan alur penyelesaiannya, hanya dapat dilakukan dengan penguasaan TI yang baik. Penelitian TI telah menjadi semakin terjangkau, terutama semenjak ditemukannya teknologi cloud computing, di mana utilisasi sumber daya komputasi dapat di-outsourcing kepada pihak ketiga, sehingga menghilangkan komponen biaya pemeliharaan supercomputer.

   Pemanfaatan TI seyogyanya menjadikan manusia semakin bijak, sebab dengan paradigma open source, tidak hanya satu orang saja yang seyogyanya mendapat kredit dalam pengerjaan suatu proyek, namun komunitas tersebut secara keseluruhan harus mendapat recognition.



Share :
ITALIC Solution
IT - Consultant

© ITALIC Solution - Development Team
Jakarta - Indonesia